Sebuah Kamera Dengan Lensa Kitnya

Review Olympus OMD EM10 II + Zuiko 14-42mm Digital EZ

Olympus-OMD-EM-10-Mark-II-M-Zuiko-14-42mm-EZ-f3.5-5.6

Bermula dari hadiah yang dinanti, dari sang istri, menjadi minat tiada henti. Sebuah review dari perjalanan panjang bersama kamera Olympus OMD EM10 Mark II dan lensa kit M.Zuiko 14-42mm f3.5-5.6 EZ, kombinasi nama yang cukup melelahkan untuk dieja memang. Hampir 2 tahun lamanya, rasa sayang dan suka tumbuh karena terbiasa. Berangkat dari sistem Nikon dengan warna yang nendang dengan kontras yang tinggi – bak hujan dikala panas, maka output dari Olympus ini terasa berbeda pada pandangan pertama, hangat tapi tetap bewarna layaknya musim semi, seakan mengajak untuk menanti keindahan yang akan datang.

Catatan : semua foto di artikel ini diambil menggunakan kombinasi kamera dan lensa yang dimaksud (tanpa tripod) dan diproses di Adobe Lightroom Classic CC untuk warna dan dipublish melalui Adobe Photoshop, kecuali foto pribadi sang kamera dan lensanya sendiri, diambil menggunakan smartphone pastinya, karena saat ini penulis hanya memiliki satu kamera.

Detail Rupa
Prolog

Kamera ini sebenarnya sudah memiliki generasi penerus yaitu Olympus OMD EM10 Mark III. Perbedaannya masih terlalu tipis, yang paling signifikan adalah tambahan mode rekaman video 4K, sedangkan di pengoperasian dan menu justru mengalami penyederhanaan. Sehingga Olympus OMD EM10 Mark II yang masih diproduksi dan dipasarkan ini juga layak menjadi alternatif pilihan dengan banderol harga yang lebih murah dan kedalaman setting yang lebih rumit daripada penerusnya.

Terinspirasi dari kamera analog, bodi Olympus ini berukuran compact bergaya retro (eyecatching sebagai aksesoris fashion), dan terasa padat dengan material rangka metal alumunium. Output default warna JPEG akurat dan terasa hangat, saturasi netral, karakter detail, tekstur renyah, dan digital noise-nya lebih seperti grain film yang ternyata sangat saya sukai. Sementara output RAW dalam format ORF lebih gelap sekitar 1 stop daripada JPEG, tentunya dengan dynamic range yang cukup fleksibel untuk diatur baik dari segi warna maupun kecerahan. Warna merah disituasi tertentu dapat menjadi sulit diproses, sementara hijau dan biru langit merupakan warna favorit saya dikamera ini.

gedung kaca grha unilever bsdcity
Gedung Kaca Grha Unilever @14mm 1/160 f8 ISO640
Pertigaan Chao Chu Kang Singapura
Persimpangan Di Chao Chu Kang @14mm 1/160 f5.6 ISO200

Resolusi 16MP lebih dari cukup untuk kebutuhan katalog digital, dan penggunaan hingga ISO 3200 kualitas gambar masih layak untuk bertamasya di sosial media :

Tentang Format Micro43

Olympus sejak lama mengusung rasio yang cukup unik untuk sebuah kamera digital yaitu 4:3 (rasio sensor smartphone kebanyakan) karena merk lain pada umumnya menggunakan rasio sensor 2:3. Micro Four Third (m43) adalah generasi penerusnya dengan luas bidang sensor yang lebih kecil daripada sensor bertipe APSC (seperti diseri kamera Fujifilm X, seri Canon Rebel/M, seri Sony A6000, seri Nikon D7000/5000/3000) dan hemat penulis perbedaan kualitas gambar yang dihasilkan tidak terlalu signifikan diantara kedua jenis sensor tersebut.

Sunset di Pantai Parangtritis
Menyisir Senja Parangtritis @14mm 1/2000 f8 ISO200. Menemukan formula komposisi di bidang rasio dengan sisi yang hampir sama panjang (terutama Instagram) menurut saya memiliki kesuliltan tersendiri apabila belum terbiasa.

Apabila dikomparasi dengan sensor yang lebih besar disistem 35mm (seperti seri Sony A7) maka focal length-nya dikali dua, contohnya lensa 50mm f1.8 di sistem 35mm akan setara 25mm f0.95 di sistem m43. Dengan jarak pengambilan gambar yang sama maka hasil perspektif, dept of field dan intensitas blur yang didapat akan serupa, tapi tangkapan cahaya tetap berbeda sesuai diafragma.

bunga tiruan
Mahkota Tiruan @14mm 1/160 f3.5 ISO1250. Intensitas blur dengan lensa kit disistem m43 bisa didapat dengan memanfaatkan jarak fokus yang lebih dekat.

Keuntungan yang didapat dari m43 adalah lensa yang lebih compact. Terutama saat menggunakan lensa tele dimana untuk mendapatkan perspektif setara 600mm cukup menggunakan lensa 300mm di m43 dengan ukuran lensa yang jauh lebih kecil dan ringan. Keuntungan lainnya adalah jarak fokus minimal menjadi lebih pendek (close up) dan depth of field lebih lebar. Sebagai referensi sistem m43 juga digunakan oleh merk Panasonic, sehingga kedua merk dapat bertukar lensa satu sama lain tanpa perlu adaptor/converter.

Ulasan Teknis
fitur in body image stabilisation Olympus
Penantian @14mm f6.3 ISO100 dengan shutter speed 1/2 detik handled (tanpa tripod/monopod). Gambar tetap tajam berkat fitur IBIS, yang seharusnya ada disetiap kamera modern sekarang.

Fitur dan harga masih sangat kompetitif meski telah 3 tahun lalu dirilis. Favorit saya: stabilisasi 5 axis dibodi kamera (IBIS : memungkinkan low shutter saat minim cahaya dan semua lensa yang dipasang otomatis terstabilisasi); built-in wifi untuk tethering, geotag dan transfer foto ke smartphone; focus bracketing dengan multiple focalplane; eksposur ganda, HDR, Live Composite; serta banyaknya tombol-tombol dan dial yang dapat dikonfigurasi fungsinya; merupakan fitur yang tidak semua kamera dikelasnya ada. Untuk fitur video meskipun bisa melakukan eksposur manual tapi spesifikasi masih standar yaitu 60fps Full HD dan slow motion 120fps hanya di 480p. Tidak ada format Log, namun sudah ada 4K timelapse, yang sayangnya belum pernah saya manfaatkan.

contoh atau sample double exposure
Sebuah Nuansa Wisata Mangunan Jogja @14mm 1/20 f22 ISO100 dishutter kedua. Pengambilan gambar menggunakan fitur eksposur ganda dari kamera.

Teruntuk lensa kit bawaan, dengan focal length setara 28-84mm (3x zoom) di 35mm format, ianya adalah lensa zoom terkecil mengingat ukuran sensornya. Dengan berat hanya 93gr, tak lebih berat daripada smartphone kebanyakan. Dalam keadaan off, kombo ini dapat menyelinap masuk ke leather clutch saya ataupun kantong jaket/sweater. Output warna berkarakter, penuh detail dan kontras, menarik dan memberi gairah, dengan ketajaman mencukupi. Vignette lembut hadir disetiap setingan yang cenderung saya biarkan untuk menambah unsur artistik.

tempat bermain di resort pantai selatan yogyakarta
Permainanku @14mm 1/800 f6.3 ISO200. Bagi saya memfoto anak-anak termasuk genre fotografi sport/action karena mereka selalu bergerak, akali dengan prefokus terlebih dahulu.

Pengoperasian lensa hening dengan autofokus yang menurut saya cepat dan akurat meskipun dengan label lensa kit. Fleksibel digunakan untuk berbagai genre fotografi kecuali sport/action yang pasti akan membuat lensa ini tertatih. Focal length minimal 14mm lebih cocok untuk genre street, fotojurnalisme, dan dokumentasi. Kurang lebar untuk landscape dan terdapat distorsi barel sehingga untuk gambar simetri atau interior perlu dikoreksi diaplikasi. Sedangkan di 42mm kurang memberikan resolusi mikrokontras tapi cukup bermanfaat untuk foto detail dengan rasio perbesaran 0.25x. Beberapa contoh penggunaan di 42mm :

Lensa terbuat dari metal dan padat namun mekanisme telescopic-nya terasa rentan, dalam penggunannya harus berhati-hati terutama saat menyalakan kamera jangan sampai menahan bagian depan lensa karena dapat mengakibatkan mekanisme untuk me-retract-nya menjadi rusak. Hal unik lain yang dimiliki lensa ini adalah fungsi zoom yang dapat diatur melalui aplikasi Olympus Image Share di smartphone kita, berguna untuk mengatur komposisi di live view saat melakukan sesi wefie/selfie.

pengaturan kamera pengambilan gambar dan geotag menggunakan aplikasi O.I.Share
Kala Masih Berempat @28mm 1/100 f5 ISO1600. Wefie dengan mudah, pengaturan kamera dan lensa serta pengambilan gambar cukup via smartphone.
Kesimpulan

Saya mendapati kombo kamera dan lensa ini sangat cocok sebagai partner traveling. Ukuran yang compact dan ringan dengan kualitas gambar yang masih jauh lebih baik dari smartphone terbaik saat ini. Desain cukup stylish, pengoperasian yang mudah dengan satu tangan, konfigurasi dial dan tombol fleksibel, fitur cukup dalam, mampu menghadirkan keinginan untuk terus menerus belajar dan mengejar cahaya.

sunset di pantai parangtritis jogjakarta
Mengejar Cahaya Di Pantai Parangtritis @14mm 1/400 f5 ISO200

Aksesoris tambahan yang segera saya lengkapi adalah menambah dua baterai cadangan. Dengan kuantitas 1000 jepretan dalam sehari biasanya masih menyisakan 1,5 baterai. Filter digunakan sekedar untuk melindungi bagian depan lensa. Sedangkan strap kulit dengan embos nama pribadi ditambah sebagai pemanis tampilan.

Banyak pembelajaran baru yang didapat selama penggunaan dua tahun terakhir. Menurut saya merk kamera apapun yang beredar saat ini sudah sangat mumpuni untuk mendapatkan gambar yang berkualitas, yang menjadi pertanyaan hanya persoalan identifikasi kebutuhan, kemampuan, kesanggupan, dan kesungguhan.

Gojek Ditaman @14mm 1/2000 f3.5 ISO640

Sampai dengan saat tulisan ini dirilis, sistem kamera mirrorles interchangeable (lensa dapat diganti) yang compact tapi komplit tetap milik Olympus/Panasonic (si pana lebih unggul difitur video). Tapi apabila ukuran/berat lensa dan biaya bukan masalah, serta menginginkan depth of field menggiurkan (bokeh/blur maksimal), maka semuanya ada di sistem 35mm Sony, Canon atau Nikon. Kompensasi diantaranya, terdapat pilihan unik lain yaitu Fujifilm, sistem yang penuh romansa dan filosofi menurut saya.

Menerawang Senyuman @14mm 1/400 f3.5 ISO400. Kamera yang paling bagus adalah kamera yang selalu ada saat dibutuhkan, bukankah begitu?
Epilog

Waktu berlalu dan perlahan instrumen baru mulai bertambah, ekslusifitas penggunaan lensa kit 14-42mm EZ sudah tergantikan penggunaannya dengan lensa-lensa fix, yang akan saya ceritakan dilain waktu tentang mereka. Tapi yang pasti, setiap perjalanan memberikan pembelajaran bagi yang mau belajar. Dan saya dapati, bahwa keterbatasan bisa menjadi segalanya. Saat keterbatasan ada, disaat itulah kreatifitas mulai merayap mencari celah, peluang mulai dicari, pikiran mulai terasah. Benar adanya bahwa keterbatasan menghasilkan kesempatan.

Dan yang pasti momen baru tidak akan terekam bila shutter itu tidak ditekan, dan menariknya dunia nyata hanya akan menjadi khayalan bila langkah tidak digerakkan, untuk itu mari keluar dan jalan-jalan, dan tekan-tekan shutter itu.

gunung fuji di jepang
Gunung Fuji @14mm 1/1250 f8 ISO200. Salah satu momen berharga yang diambil dengan kombinasi kamera OMD EM10ii dan lensa kit 14-42mm EZ.

Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi referensi bermanfaat bagi yang tertarik atau yang ingin sekedar tahu apa yang bisa dihasilkan sebuah kamera dengan lensa kitnya. Murah belum tentu murahan, dan bisa jadi apa yang sudah kita miliki merupakan mimpi bagi yang lainnya.

Tambahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *